Diriku dan Orang Lain

Diriku dan Orang Lain

Kini aku tinggal di Jakarta kota yang penuh dengan orang, kendaraan, kemacetan, pembangunan dan masih banyak lainnya yang membuat kota ini begitu sibuk dan sangat padat. Dimana diriku baru 1 (satu) tahun di Jakarta mulai beradaptasi dengan beribu – ribu perbedaan dengan kota kelahiranku. Kemacetan yang terjasi setiap pulang kerja habis ketika aku sudah terlelap. Dimana seorang dengan yang lain saling mendahulukan dirinya sendiri untuk bebas dari kemacetan tanpa melihat orang lain. Dan itu yang aku rasakan sekarang mulai dari jalan sampai di pekerjaan. Setiap orang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli orang lain yang membutuhkan walaupun sama atau berbeda derajatnya.

Di hari minggu pagi aku pergi untuk membeli sarapan dengan teman sekosan. Setiap beli makanan pasti aku memilih untuk makanan yang enak menurutku. Dan akhirnya aku membeli makanan di warteg dengan aneka pilihan masakan yang enak. Aku memilih ikan goring tepung,sayur sup, gorengan, bergedel, krupuk, dan minum es teh. Aku memilih dengan rasa sangat lapar dan haus , aku makan dengan lahapnya namun aku melihat seseorang pria kira – kira berumur 35 tahun dengan badan besar karena kuli bangunan. Pria tersebut membeli makan dengan memilih masakan yang ada di warteg tersebut. Dengan rasa penuh lapar pria tersebut memilih masakan nasi, oreg tempe, dan oreg kentang dengan minum hanya air putih hangat. Dengan lahapnya pria tersebut makan, dalam hatiku aku bicara kenapa aku bisa memilih makanan dengan sebanyak ini dibandingkan dengan bapak itu. Aku yakin bapak itu bekerja untuk keluarga yang ditinggalnya dirumah dan jauh dari keluarga. Pembelajaran berharga buatku untuk tetap hidup sederhana dan peduli terhadap oranglain. Tidak seenaknya sendiri membeli apapun yang kita bisa beli, tetapi sisihkan untuk orang yang sangat membutuhkan.

Senin mulai lah hari dimana para penduduk Jakarta sibuk dengan rutinitas yang mereka jalani untuk mencari nafkah. Sepulang kerja aku berencana untuk transfer uang untuk membayar kosan di ATM Indomart karena dekat kosan. Aku menunggu giliran untuk memakai ATM itu, lagi – lagi aku melihat seorang bapak seperti kuli bangunan dengan wajah kelelahan yang mengambil uang di ATM untuk membeli barang yang sudah dipilih dan dibawanya. Aku melihat setelah bapak itu mengambil uang, tanpa sengaja aku melihat saldo direkening bapak itu hanya tinggal Rp 126.000,- namun dengan wajah senang bapak itu membayarkan barang – barang kebutuhan yang akan dibelinya. Lagi – lagi aku mendapat pelajaran berharga dari seorang bapak – bapak yang selalu bahagia karena kebutuhan hidupnya tercukupi walaupun tidak berlebih namun tetap bersyukur.

Suatu hari hujan di pagi hari sangat deras hingga aku malas untuk bekerja karena egoku dan merasa kurang tidur karena tidur malam. Namun itu hanya keinginan ku yang tidak bisa kulakukan karena didikan orang tuaku yang memaksaku untuk selalu bekerja dengan keadaan apapun. Dalam perjalanan berangkat ke kantor aku melihat seorang pedagang yang tiap hari berjualan ‘’martabak” tidak ada perubahan sedikitpun dari dirinya walaupun hujan melanda dipagi hari. Penjual itu tetap berjualan tidak terlambat selalu ada tiap aku lewat, tetap membuat martabak, tetap bekerja walau hujan deras tidak peduli pembeli langganannya membeli atau tidak. Motorku melaju terus menerjang hujan, aku melihat sekelompok bapak – bapak dengan baju orange yang membersihkan sungai dan selokan dipagi hari. Mereka begitu semangat dan bertanggung jawab atas pekerjaannya, bila terjadi banjir karena ada sampah yang menyumbat dan seharusnya mereka bersihkan, aku yakin mereka sangat kecewa. Hari itu sangat lah berkesan dan banyak sekali pembelajaran. Mereka yang bekerja tulus dengan hati akan selalu bekerja tanpa mengenal kondisi dan percaya bahwa rezeki akan selalu ada sesuai kebutuhan diri, namun mereka yang bekerja hanya mengejar materi tanpa menggunakan hati percaya bahwa rezeki harus ditimbun sebanyak – banyaknya karena hari esok rezeki akan habis dan tidak akan datang lagi. Jangan berharap akan indah pada waktunya tapi buatlah waktu – waktu setiap hari itu indah.

Penulis,
Kristedo Sakti Nugroho

Komentar

Postingan Populer